PEMBAHASAN
POLA
PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN
Masa
klasik umat Islam telah mencapai masa keemasan dalam peradabannya, baik di
bidang politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Semua ini dialami oleh umat
Islam karena ilmu mengandung ajaran tentang pendidikan. Pendidikan pada masa
Rasulullh telah memberi contoh terhadap umat ke depanya, baik dari segi sosial,
tanggung jawab, serta kepemimpinan beliau sebagai panutan umat dalam mendidikan
kaumnya ke arah yang lebih baik.
Terlepas
dari itu, pemakalah mencoba akan mengagas pola pendidikan Islam pada masa Khulafaurrasyidin,
karena pendidikan setelah Rasul wafat, sangat banyak pembaruan yang terjadi
tentang kemajuan pada masanya masing-masing.
a.
Pola Pendidikan Islam Pada Masa Abu Bakar
As-Siddiq ( 632-634 M)
Peradaban pendidikan Islam pada masa Abu Bakar
telah membawa dampak yang sangat singnifikan, baik dari segi ekonomi, politik, hukum,
dan syiar agama Islam. Sehingga, peradaban pendidikan tersebut membawa
perubahan yang sangat luar biasa. Pendidikan Islam yang berkembang pada masa
Abu Bakar as-Siddiq, pada dasarnya masih mengadopsi pendidikan Islam yang
dikembangkan pada Rasulullah (Nabi), karena setelah wafatnya Rasulullah, Abu Bakar
adalah orang yang pertama sekali ditunjuk sebagai khalifah pertama. Sehingga tugas-tugas
Rasul harus dilakukan oleh Abu Bakar.
Khalifah adalah pemimpin yang diangkat setelah
Nabi wafat untuk menggantikan Nabi dan melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin
agama dan pemerintah.[1]
Sebagai khalifah, pertama sekali ujian yang dihadapi oleh Abu Bakar sendiri
adalah pemberontakan oleh orang murtad, orang-orang yang mengaku sebagai Nabi
serta orang enggan membayar zakar. Adapun pola pendidikan Islam yang dilakukan
oleh Abu Bakar, masih sama seperti pola pendidikan yang dilakukan oleh Nabi,
baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya.
Dilihat dari segi materi pendidikan Islam,
yang dilakukan oleh Abu Bakar berupa pendidikan Tauhid (keimanan), Akhlak,
Ibadah, Kesehatan.[2]
Serta kehidupan sosial-kemasyarakatan, keagamaan dan bahkan kehidupan
bernegara.[3] Sebenaranya
pada masa Abu bakar pendidikan yang di
lakukan olehnya, mengenai penguatan keimanan, disebabkan karena
pengaruh-pengaruh yang dilakukan orang murtad, sehingga Abu Bakar khawair
terhadap masyarakat muslim yang masih lemah imannya. Sehingga
pengalaman-pengalam pemberontak dan enggan membayar zakat, merupakan pengajaran
atau pendidikan Islam untuk memperkokoh nilai-nilai Islam di kalangan kaum
muslimin.
b.
Pola Pendidikan Islam Pada Masa Umar Bin
Khattab (634-644 M)
Umar bin Khattab adalah khalifah kedua setalah
Abu Bakar, keadaan politik pun telah stabil. Namun, untuk meneruskan perjuagan
Abu Bakar, Umar bin Khattab mengirim pasukan untuk memperluas wilayah Islam.
Ekspansi Islam di masa Umar bin Khattab juga mencapai hasil yang sangat
gemilang, karena dapat menguasai semenanjung Arabia, Palestina, Syiria, Irak,
Persia dan Mesir.
Dengan meluasnya wilayah kekuasaan
yang ditaklukkan oleh pasukan Umar bin Khattab, sehingga pendidikan Islam juga telah
berpengaruh besar terhadap syiar agama Islam terhadap kaum muslimin pada kala
itu. Dengan keberhasilan para panglima-panglima yang telah diutus ole Umar,
maka mereka yang menaklukkan wilayah tersebut diperkenankan oleh Umar bin
Khattab mengembangkan pendidikan Islam di wilayah yang ditaklukkan.
Pada masa Khalifah Umar, para
sahabat-sahabat yang dekat dengan Rasulullah, tidak diberi izin oleh Umar untuk
keluar dari daerahnya (Madinah). Sehingga penyebaaran ilmu para sahabat besar
berpusat di Madinah sehingga kota tersebut menjadi pusat keilmuan agama. Pada
masa Umar lahirlah pembidangan disiplin ilmu pengetahuan agama, di antaranya,
ilmu tafsir, hadits, fiqih, dan sebagainya.[4]
Pada masa Umar pembidang ilmu tersebut mulai berkembang, sehingga orang yang
baru masuk Islam dari daerah-daerah yang ditaklukkan, harus belajar bahasa Arab
jika mereka ingin belajar mendalami ilmu pengetahuan.
Dapat dikatakan bahwa, pendidikan
yang berkembang pada masa Umar telah memberikan nuansa baru terhadap
perkembanga pendidikan Islam bagi umat Islam, sebab selama Umar menjabat
memerintah Negara dalam keadan stabil dan aman, masjid dibangun sebagai pusat
pendidikan, begitu juga setiap kota yang ditaklukkan pusat pendidikan di
fokuskan di masjid.
c.
Pola Pendidikan Islam Pada Masa Usman Bin
Affan (644-656 M)
Usman ibn Abil Ash ibn Umaiyah, belaiu masuk
Islam berkar seruan atau ajakan Khalifah pertama yaitu Abu Bakar. Usman adalah
saudagar yang kaya rasa, harta atau harta
yang beliau miliki dinafkahkan demi kepentingan umat Islam. Pada masa
Usman pelaksanaan pendidikan Islam tidak berbeda dangan masa sebelumnya.
Pendidikan di masa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada. Namun, hanya
sedikit perbedaan dari khalifah sebelumnya yaitu pada masa Umar, bahwa para sahabat yang berpengaruh dan dekat dengan
Rasulullah tidak diperkenankan keluar dari kota Madinah. Akan tetapi pada masa
Usman para sahabat tersebut justeru diizinkan dan keluar dari kota Madinah
untuk menyebarkan agama Islam ke wilayah yang dikuasai.
Proses pelaksanaan pola pendidikan Islam pada
masa Usman ini lebih ringan ketimbang Khalifah sebelumnya. Karena para peserta
didik agama Islam tidak lagi menempuh jarak yang jauh, seperti yang dilakukan
Umar bin Khattab yang menganjurkan peserta didik datang ke Madinah. Berkat inisiatif
yang dilakukan oleh Usman para sahabat dapat memilih untuk memberikan
pendidikan kepada masyarakat.[5]
Ada suatu usaha yang berbeda dengan khalifah
sebelumnya, dalam pendidikan Islam tentang usaha pengumpulan mushaf ,
disebabkan karena terjadi perselisihan dalam bacaan al-Qur’an, sehingga Usman
mengintruksikan kepada tim penyusunan mushaf tersebut, di antaranya Zaid bin Tsabit,
Abdullah bin Zubair, Zaid bin Ash, dan Abdurrahman bin Harist.
Saat Usman bin Affan sebagai khalifah, beliau
tidak mengangkat guru-guru untuk mengajarkan agama Islam. Tetapi guru-guru
(para pendidikan) sendiri yang melaksankan tugasnya dengan harapan mendapat keridhaan
Allah SWT semata.
d.
Pola Pendidikan Islam Pada Masa Ali bin Abi
Thalib (656-661 M)
Pada masa Ali Bin Abi Thalib, sangat di
sayangkan karena pada masanay terjadi pemberontakan dan perpecahan umat Islam,
sehingga masalah pendidikan Islam ditinggalkan karena sibuk perebutan kekuasaan
serta jabata. Pada masa pemerintahannya sudah diguncang dengan peperangan dengan
Aisyah (istri Nabi) beserta Talhah dan Abdurrahma bin Zubair, karena
kesalahpahaman dalam menyikapi pembunuhan terhadap Usman.
Berdalih dari masalah itu, terjadi lagi
perselihan antara Ali dengan Muawiyah, yang disebut dengan perang shiffin.
Muawiyah adalah gubernur di Damaskus, memberontak untuk mengulingkan Ali. Ali
bin Abi Thalib juga tidak tinggal diam dan bersikeras menghadapi Muawiyah.
Sebenarnya saat peperangan itu berlangsung pihak Ali sudah pasti memenangkan
peperangan tesebut. Muawiyah mengambil siasat untuk mengadakan tahkim.
Tetapi, semula Ali menolak dengan tawaran tersebut, akhirnya karena sebagian
tentara Ali mendesak untuk melakukan tahkim, akhirnya Ali pun
menerimanya. Namun, tahkim tersebut bukan malah memperbaiki keadaan tetapi
memperburuk keadaan, sehingga tentara-tentara Ali pun berpencar dan terpecah
belah, yang di sebut dengan khawarij.[6]
Jadi boleh dikatakan bahwa pada masa Ali bin
Abi Thalib, pendidikan Islam tidak berjalan dengan baik dan berkembang seperti
pendidikan Islam yang dilakukan oleh khalifah sesudahnya (Ali bin Abi Thalib),
karena pada masa Ali bin Abi Thalib banyak sekali timbul masalah-masalah yang
sanat luar biasa antara kaum muslimin itu sendiri. Sehingga pengaruh
permasalahan tersebut membuat kegiatan penyebaran pendidikan Islam diabaikan.
B.
Pusat-Pusat Pendidikan Islam Pada Masa Khulafaurrasyidin
Khulafaurrasyidin adalah penganti Nabi yang menjabat sebagai
kepala Negara dalam pemerintahan, di antaranya; Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.
Sebagai kepala negara tentunya kemajuan pendidikan Islam itu tidak terlepas
dari pusat-pusat perkembangan pengetahuan agama Islam pada saat itu, dalam
makalah ini akan mencoba memaparkan pusat-pusat pendidikan Islam secara umum
pada masa khulfaurrasyidin.
Adapun pusat-pusat pendidikan Islam pada masa
Khulfaurrasyidin di antaranya :
1. Mekkah. Guru pertama di Mekkah adalah Muaz bin
Jabal yang mengajarkan al-Qur’an dan fiqih.
2. Madinah. Sahabat yang terkenal antara lain:
Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, serta
sahabat-sahabat yang lainnya.
3. Basrah. Sahabat yang termasyhur antara lain:
Abu Musa al-Asy’ary, dia adalah seorang ahli fiqih dan hadits.
4. Kuffah. Sahabat-sahabat yang termasyhur di
antaranya: Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud
mengajarkan al-Qur’an, ia ahli tafsir, fiqih dan hadits.
5. Damsyik (Syam). Setelah Syam (Syiria) menjadi
bagian negara Islam dan penduduknya banyak keragaman Islam. Maka khalifah Umar
mengirim tiga orang guru ke negera itu, di antaranya: Mu’az bin Jabal, Ubaidah,
dan Abu Darda’. Ketiga sahabat ini mengajar di Syam pada tempat yang betbeda.
Abu Darda’ di Damsyik, Mu’az di Palestina, dan Ubaidah di Hims.
6. Mesir. Sahabat yang mula-mula mendirikan
madarah dan menjadi guru di Mesir adalah Amru bin Ash, ia adalah seorang ahli
hadits.[7]
C.
Khazanah Pendidikan Islam Pada Masa
Khafaurrasyidin
Khazanah adalah suatu kekayaan yang dapat di
ambil dari pola pendidikan Islam yang dilakukan oleh para khalifah, karena
khalifah merupakan guru-guru besar dalam pembaharuan Islam yang sangat
termashur. Oleh karena itu pola-pola pendidikan tersebut merupakan cerminan terhadap
perkembangan pendidika masa kini (zaman modern).
Menurut analisa pemakalah, bahwa khazanah yang
dapat dipetik dari pola pendidikan Islam pada masa khulafaur rasyidin, seluruh
aktivitas yang dilakukan memjadi pembelajaran yang sangat berharga, seperti pendidikan
tentang tata cara berpolitik, beragama, bermasyarakat, bersosial dan
sebagainya. Jadi khazanah itu terletak pada nilai-nilai positif yang dapat
diambil dari semua kejadian pada masa khulafaurrasyidin.
D. Penutup
1. Pola
pendidikan Islam pada masa Khulafaurrasidin tidak jauh berbeda dengan
masa nabi yang menekan pada pengajaran baca tulis dan ajaran ajaran Islam yang
bersumber pada al-Qur’an dan Hadist Nabi.
2. Pola pendidikan Islam pada masa khalifah Umar Bin
Khattab sedikit lebih meningkat, para pengajar sudah digaji yang diambilkan
dari baitulmal dan banyak daerah yang ditaklukkan.
3. Poal pendidikan Islam pada masa Utsman Bin Affan
pendidikan tidak terpacu di Madinah saja, sebab para pengajar sudah
diperbolehkan memilih tempat yang disukai kemudian mengembangkan keilmuannya di
daerah tersebut.
4. Pola pendidikan Islam pada masa khalifah Ali Bin Abi
Thalib tidak mengalami perubahan sebab pada masa ini banyak terjadi
pemberontakan, sehingga kholifah Ali tidak sempat memikirkan pendidikan di
negaranya.
5. Di antara pusat-pusat pendidikan pada masa Khulafaur
rasidin adalah Mekkah, Madinah, Mesir, Kuffah, dan Basrah.
Daftar
Pustaka
Hanum Asrohah, Sejarah
Pendidikan Islam, Cet. 1, Jakarta: Logos, 1999.
Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana,
2007.
Rosihon Anwar,
Abdul Rozak, Ilmu Kalam, Cet – I, Bandung: Pustaka Setia, 2001.
Yunus, Mahmud, Sejarah
Pendidikan Islam Jakarta:
Hidayakarya Agung ,1989.
Syalaby, Ahmad, Sejarah
Kebudayaan Islam, Al-husna
zikra Jakarta, 2000.