Jumat, 21 November 2014

Makalah Sejarah dan Khazanah Pendidikan Islam Pada Masa Khulafaurrasyidin

PEMBAHASAN

POLA PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN

Masa klasik umat Islam telah mencapai masa keemasan dalam peradabannya, baik di bidang politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Semua ini dialami oleh umat Islam karena ilmu mengandung ajaran tentang pendidikan. Pendidikan pada masa Rasulullh telah memberi contoh terhadap umat ke depanya, baik dari segi sosial, tanggung jawab, serta kepemimpinan beliau sebagai panutan umat dalam mendidikan kaumnya ke arah yang lebih baik.
Terlepas dari itu, pemakalah mencoba akan mengagas pola pendidikan Islam pada masa Khulafaurrasyidin, karena pendidikan setelah Rasul wafat, sangat banyak pembaruan yang terjadi tentang kemajuan pada masanya masing-masing.

a.        Pola Pendidikan Islam Pada Masa Abu Bakar As-Siddiq ( 632-634 M)
Peradaban pendidikan Islam pada masa Abu Bakar telah membawa dampak yang sangat singnifikan, baik dari segi ekonomi, politik, hukum, dan syiar agama Islam. Sehingga, peradaban pendidikan tersebut membawa perubahan yang sangat luar biasa. Pendidikan Islam yang berkembang pada masa Abu Bakar as-Siddiq, pada dasarnya masih mengadopsi pendidikan Islam yang dikembangkan pada Rasulullah (Nabi), karena setelah wafatnya Rasulullah, Abu Bakar adalah orang yang pertama sekali ditunjuk sebagai khalifah pertama. Sehingga tugas-tugas Rasul harus dilakukan oleh Abu Bakar.
Khalifah adalah pemimpin yang diangkat setelah Nabi wafat untuk menggantikan Nabi dan melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan pemerintah.[1] Sebagai khalifah, pertama sekali ujian yang dihadapi oleh Abu Bakar sendiri adalah pemberontakan oleh orang murtad, orang-orang yang mengaku sebagai Nabi serta orang enggan membayar zakar. Adapun pola pendidikan Islam yang dilakukan oleh Abu Bakar, masih sama seperti pola pendidikan yang dilakukan oleh Nabi, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya.
Dilihat dari segi materi pendidikan Islam, yang dilakukan oleh Abu Bakar berupa pendidikan Tauhid (keimanan), Akhlak, Ibadah, Kesehatan.[2] Serta kehidupan sosial-kemasyarakatan, keagamaan dan bahkan kehidupan bernegara.[3] Sebenaranya pada masa Abu bakar  pendidikan yang di lakukan olehnya, mengenai penguatan keimanan, disebabkan karena pengaruh-pengaruh yang dilakukan orang murtad, sehingga Abu Bakar khawair terhadap masyarakat muslim yang masih lemah imannya. Sehingga pengalaman-pengalam pemberontak dan enggan membayar zakat, merupakan pengajaran atau pendidikan Islam untuk memperkokoh nilai-nilai Islam di kalangan kaum muslimin.

b.        Pola Pendidikan Islam Pada Masa Umar Bin Khattab (634-644 M)

Umar bin Khattab adalah khalifah kedua setalah Abu Bakar, keadaan politik pun telah stabil. Namun, untuk meneruskan perjuagan Abu Bakar, Umar bin Khattab mengirim pasukan untuk memperluas wilayah Islam. Ekspansi Islam di masa Umar bin Khattab juga mencapai hasil yang sangat gemilang, karena dapat menguasai semenanjung Arabia, Palestina, Syiria, Irak, Persia dan Mesir.
            Dengan meluasnya wilayah kekuasaan yang ditaklukkan oleh pasukan Umar bin Khattab,  sehingga pendidikan Islam juga telah berpengaruh besar terhadap syiar agama Islam terhadap kaum muslimin pada kala itu. Dengan keberhasilan para panglima-panglima yang telah diutus ole Umar, maka mereka yang menaklukkan wilayah tersebut diperkenankan oleh Umar bin Khattab mengembangkan pendidikan Islam di wilayah yang ditaklukkan.
            Pada masa Khalifah Umar, para sahabat-sahabat yang dekat dengan Rasulullah, tidak diberi izin oleh Umar untuk keluar dari daerahnya (Madinah). Sehingga penyebaaran ilmu para sahabat besar berpusat di Madinah sehingga kota tersebut menjadi pusat keilmuan agama. Pada masa Umar lahirlah pembidangan disiplin ilmu pengetahuan agama, di antaranya, ilmu tafsir, hadits, fiqih, dan sebagainya.[4] Pada masa Umar pembidang ilmu tersebut mulai berkembang, sehingga orang yang baru masuk Islam dari daerah-daerah yang ditaklukkan, harus belajar bahasa Arab jika mereka ingin belajar mendalami ilmu pengetahuan.
            Dapat dikatakan bahwa, pendidikan yang berkembang pada masa Umar telah memberikan nuansa baru terhadap perkembanga pendidikan Islam bagi umat Islam, sebab selama Umar menjabat memerintah Negara dalam keadan stabil dan aman, masjid dibangun sebagai pusat pendidikan, begitu juga setiap kota yang ditaklukkan pusat pendidikan di fokuskan di masjid.

c.         Pola Pendidikan Islam Pada Masa Usman Bin Affan (644-656 M)
Usman ibn Abil Ash ibn Umaiyah, belaiu masuk Islam berkar seruan atau ajakan Khalifah pertama yaitu Abu Bakar. Usman adalah saudagar yang kaya rasa, harta atau harta  yang beliau miliki dinafkahkan demi kepentingan umat Islam. Pada masa Usman pelaksanaan pendidikan Islam tidak berbeda dangan masa sebelumnya. Pendidikan di masa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada. Namun, hanya sedikit perbedaan dari khalifah sebelumnya yaitu pada masa Umar, bahwa para  sahabat yang berpengaruh dan dekat dengan Rasulullah tidak diperkenankan keluar dari kota Madinah. Akan tetapi pada masa Usman para sahabat tersebut justeru diizinkan dan keluar dari kota Madinah untuk menyebarkan agama Islam ke wilayah yang dikuasai.
Proses pelaksanaan pola pendidikan Islam pada masa Usman ini lebih ringan ketimbang Khalifah sebelumnya. Karena para peserta didik agama Islam tidak lagi menempuh jarak yang jauh, seperti yang dilakukan Umar bin Khattab yang menganjurkan peserta didik datang ke Madinah. Berkat inisiatif yang dilakukan oleh Usman para sahabat dapat memilih untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.[5]
Ada suatu usaha yang berbeda dengan khalifah sebelumnya, dalam pendidikan Islam tentang usaha pengumpulan mushaf , disebabkan karena terjadi perselisihan dalam bacaan al-Qur’an, sehingga Usman mengintruksikan kepada tim penyusunan mushaf  tersebut, di antaranya Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Zaid bin Ash, dan Abdurrahman bin Harist.
Saat Usman bin Affan sebagai khalifah, beliau tidak mengangkat guru-guru untuk mengajarkan agama Islam. Tetapi guru-guru (para pendidikan) sendiri yang melaksankan tugasnya dengan harapan mendapat keridhaan Allah SWT semata.
d.        Pola Pendidikan Islam Pada Masa Ali bin Abi Thalib (656-661 M)
Pada masa Ali Bin Abi Thalib, sangat di sayangkan karena pada masanay terjadi pemberontakan dan perpecahan umat Islam, sehingga masalah pendidikan Islam ditinggalkan karena sibuk perebutan kekuasaan serta jabata. Pada masa pemerintahannya sudah diguncang dengan peperangan dengan Aisyah (istri Nabi) beserta Talhah dan Abdurrahma bin Zubair, karena kesalahpahaman dalam menyikapi pembunuhan terhadap Usman.
Berdalih dari masalah itu, terjadi lagi perselihan antara Ali dengan Muawiyah, yang disebut dengan perang shiffin. Muawiyah adalah gubernur di Damaskus, memberontak untuk mengulingkan Ali. Ali bin Abi Thalib juga tidak tinggal diam dan bersikeras menghadapi Muawiyah. Sebenarnya saat peperangan itu berlangsung pihak Ali sudah pasti memenangkan peperangan tesebut. Muawiyah mengambil siasat untuk mengadakan tahkim. Tetapi, semula Ali menolak dengan tawaran tersebut, akhirnya karena sebagian tentara Ali mendesak untuk melakukan tahkim, akhirnya Ali pun menerimanya. Namun, tahkim tersebut bukan malah memperbaiki keadaan tetapi memperburuk keadaan, sehingga tentara-tentara Ali pun berpencar dan terpecah belah, yang di sebut dengan khawarij.[6]
Jadi boleh dikatakan bahwa pada masa Ali bin Abi Thalib, pendidikan Islam tidak berjalan dengan baik dan berkembang seperti pendidikan Islam yang dilakukan oleh khalifah sesudahnya (Ali bin Abi Thalib), karena pada masa Ali bin Abi Thalib banyak sekali timbul masalah-masalah yang sanat luar biasa antara kaum muslimin itu sendiri. Sehingga pengaruh permasalahan tersebut membuat kegiatan penyebaran pendidikan Islam  diabaikan.
B.       Pusat-Pusat Pendidikan Islam Pada Masa Khulafaurrasyidin
Khulafaurrasyidin adalah penganti Nabi yang menjabat sebagai kepala Negara dalam pemerintahan, di antaranya; Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Sebagai kepala negara tentunya kemajuan pendidikan Islam itu tidak terlepas dari pusat-pusat perkembangan pengetahuan agama Islam pada saat itu, dalam makalah ini akan mencoba memaparkan pusat-pusat pendidikan Islam secara umum pada masa khulfaurrasyidin.
Adapun pusat-pusat pendidikan Islam pada masa Khulfaurrasyidin di antaranya :
1.      Mekkah. Guru pertama di Mekkah adalah Muaz bin Jabal yang mengajarkan al-Qur’an dan fiqih.
2.      Madinah. Sahabat yang terkenal antara lain: Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, serta sahabat-sahabat yang lainnya.
3.      Basrah. Sahabat yang termasyhur antara lain: Abu Musa al-Asy’ary, dia adalah seorang ahli fiqih dan hadits.
4.      Kuffah. Sahabat-sahabat yang termasyhur di antaranya: Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud mengajarkan al-Qur’an, ia ahli tafsir, fiqih dan hadits.
5.      Damsyik (Syam). Setelah Syam (Syiria) menjadi bagian negara Islam dan penduduknya banyak keragaman Islam. Maka khalifah Umar mengirim tiga orang guru ke negera itu, di antaranya: Mu’az bin Jabal, Ubaidah, dan Abu Darda’. Ketiga sahabat ini mengajar di Syam pada tempat yang betbeda. Abu Darda’ di Damsyik, Mu’az di Palestina, dan Ubaidah di Hims.
6.      Mesir. Sahabat yang mula-mula mendirikan madarah dan menjadi guru di Mesir adalah Amru bin Ash, ia adalah seorang ahli hadits.[7]

C.      Khazanah Pendidikan Islam Pada Masa Khafaurrasyidin
Khazanah adalah suatu kekayaan yang dapat di ambil dari pola pendidikan Islam yang dilakukan oleh para khalifah, karena khalifah merupakan guru-guru besar dalam pembaharuan Islam yang sangat termashur. Oleh karena itu pola-pola pendidikan tersebut merupakan cerminan terhadap perkembangan pendidika masa kini (zaman modern).
Menurut analisa pemakalah, bahwa khazanah yang dapat dipetik dari pola pendidikan Islam pada masa khulafaur rasyidin, seluruh aktivitas yang dilakukan memjadi pembelajaran yang sangat berharga, seperti pendidikan tentang tata cara berpolitik, beragama, bermasyarakat, bersosial dan sebagainya. Jadi khazanah itu terletak pada nilai-nilai positif yang dapat diambil dari semua kejadian pada masa khulafaurrasyidin.

D.      Penutup
1.    Pola pendidikan Islam pada masa Khulafaurrasidin tidak jauh berbeda dengan masa nabi yang menekan pada pengajaran baca tulis dan ajaran ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur’an dan Hadist Nabi.
2.    Pola pendidikan Islam pada masa khalifah Umar Bin Khattab sedikit lebih meningkat, para pengajar sudah digaji yang diambilkan dari baitulmal dan banyak daerah yang ditaklukkan.
3.    Poal pendidikan Islam pada masa Utsman Bin Affan pendidikan tidak terpacu di Madinah saja, sebab para pengajar sudah diperbolehkan memilih tempat yang disukai kemudian mengembangkan keilmuannya di daerah tersebut.
4.    Pola pendidikan Islam pada masa khalifah Ali Bin Abi Thalib tidak mengalami perubahan sebab pada masa ini banyak terjadi pemberontakan, sehingga kholifah Ali tidak sempat memikirkan pendidikan di negaranya.
5.    Di antara pusat-pusat pendidikan pada masa Khulafaur rasidin adalah Mekkah, Madinah, Mesir, Kuffah, dan Basrah.





Daftar Pustaka

Hanum Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, Cet. 1, Jakarta: Logos, 1999.
Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2007.
Rosihon Anwar, Abdul Rozak, Ilmu Kalam, Cet – I, Bandung: Pustaka Setia, 2001.
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam Jakarta: Hidayakarya Agung ,1989.
Syalaby, Ahmad, Sejarah Kebudayaan Islam, Al-husna zikra Jakarta, 2000.



[1] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 44.
[2] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakkarta: Hidaya Karya Agung ,1989), hlm. 18.

[3] Harun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam, Cet – I, (Jakarta: Logos, 1999), hlm. 15.
[4] Ibid, hlm. 18.

[5] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 49.
[6] Rosihon Anwar, Abdul Rozak, Ilmu Kalam, Cet – I (Bandung: Pustaka Setia, 2001), hlm. 49-50.
[7] Ibid, hlm. 51.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar