Selasa, 30 Desember 2014

Psikologi Pendidikan Islam

PENDAHULUAN

Oleh : Darussalam

Pada dasarnya anak dilahirkan di dunia dalam keadaan fitrah. Selaras dengan teori “tabula rasa” milik John Lock bahwa anak dilahirkan seperti kertas putih tanpa coretan. Dalam diri anak memiliki potensi-potensi yang harus dikembangkan, sehingga anak tersebut dapat mencapai tujuaanya dalam menghadapi kehidupannya.
Psikologi berasal dari psyche yakni jiwa dan logos ilmu pengetahuan. Mengingat jiwa seseorang dapat dipelajari, diselidiki melalui perilakunya, maka psikologi sering dikatakan ilmu yang mempelajari perilaku manusia. Karena perilaku seseorang adalah hasil anteraksi antara dirinya dan lingkungan, maka perilaku harus dipelajari dalam hubungan dengan lingkungannya.
Maka psikologi dapat dirumuskan sebagai ilmu pengetahuan tentanga mempelajari perilaku manusia dalam hubungan timbal balik dengan lingkungannya. Dalam usaha memahami perilaku manusia, dipakai beberapa cara antara lain observasi.  Observasi adalah melihat perilaku orang lain dan memberi arti pada perilaku serta mencari penyebab atau latar belakang timbulnya perilaku tersebut.[1]





PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN PSIKOLOGI PEMBELAJARAN
ANAK USIA REMAJA

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk kejiwaan manusia. Peyelidikan tentang gejala-gejala kejiwaan itu sendiri awal mulanya dilakukan oleh para filsuf Yunani kuno.[2] Psikologi baru diakui menjadi cabang ilmu independen setelah didirikan laboratorium psikologi oleh Wilhem Wund pada tahun 1879. Yang kemudian sangat berpengaruh bagi perkembangan psikologi selanjutnya. Metode-metode baru dikemukakan untuk pembuktian nyata dalam psikologi sehingga lambat laun dapat disusun teori-teori psikologi yang terlepas dari ilmu induknya.[3]
Menurut Nana Syaodih Sukmadinata, minimal ada dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Keduanya sangat diperlukan, baik dalam merumuskan tujuan, memilih dan menyusun bahan ajar, memilih dan menetapkan metode pembelajaran serta tekni-teknik penilaian.[4]
Psikologi perkembangan merupakan cabang psikologi yang mempelajari tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dimulai dari konsepsi sampai mati.[5]
Perkembangan dapat diartikan sebagai suatu perubahan progresif dan kontinu dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati. Perkembangan juga diartikan sebagai perubahan-peribahan yang dialami oleh individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya yang berlangsung secara sistemastis (saling ketergantungan atau saling mempengaruhi antara bagian-bagian organisme dan merupakan suatu kesatuan yang utuh), progresif (bersifat maju, meningkat dan mendalam baik secara kuantitatif maupun kualitatif) dan berkesinambungan (secara beraturan, berurutan, bukan secara kebetulan) menyangkut fisik maupun psikis.[6]
Pembahasan tentang tahapan-tahapan perkembangan psikologi manusia termuat dalam Al-Qur’an. Allah menciptakan manusia dari berbagai tahap progresif pertumbuhan dan perkembangan. Dengan kata lain, kehidupan manusia memiliki pola dalam tahapan-tahapan tertentu termasuk tahapan dari pembuahan sampai kematian. Tahapan yang terjadi yang dilewati manusia dalam pertumbuhan dan perkembangannya terjadi bukan karena faktor peluang atau kebetulan, namun ini merupakan sesuatu yang dirancang, ditentukan dan ditetapkan langsung oleh Allah swt, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Furqaan ayat 2 di bawah ini:
Ï%©!$# ¼çms9 à7ù=ãB ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur óOs9ur õÏ­Gtƒ #Ys9ur öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! Ô7ƒÎŽŸ° Îû Å7ù=ßJø9$# t,n=yzur ¨@à2 &äóÓx« ¼çnu£s)sù #\ƒÏø)s? ÇËÈ  

Artinya :“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan dia tidak    mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya". (QS. Al-Furqaan Ayat 2).

Dengan demikian, maka bisa diartikan bahwa manusia pasti mengalami fase-fase perkembangan. Adapun Ciri-ciri umum perkembangan adalah:
1.      Terjadinya perubahan dalam aspek fisik (misalnya tinggi dan berat badan) dan aspek psikis (misalnya bertambahnya perbendaharaan kata dan matangnya kemapuan berpikir).
2.      Terjadinya perubahan proporsi menyangkut aspek fisik (proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangan) dan aspek psikis (misalnya perubahan imajinasi dari fantasi menuju realitas).
3.      Menghilangnya tanda-tanda fisik dan psikis yang lama (misalnya hilangnya rambut-rambut halus dan gigi susu, hilangnya masa mengoceh, merangkak dan berinda impulsif).
4.      Munculnya tanda-tanda fisik dan psikis yang baru (misalnya pergantian gigi dan berkembangnya curiosity).[7]
Penjelasan di atas menunjukkan perkembangan manusia mulai fase anak sampai dewasa memiliki ciri-ciri tertentu, baik aspek fisik, kognitif sampai agama, berikut ini akan dibahas secara mendalam terkait dengan perkembangan manusia sebagai dasar pendidikan Islam.
Proses pemkembangan psikologi anak dapat di bagi beberapa fase, yang meliputi:
1.      Fase masa kanak-kanak
2.      Fase masa baligh
3.      Fase masa dewasa
Dari ketiga masa tersebut, dalam pemakalah ini akan membahas tentang masa baligh (masa remaja) saja. Karena pada makalah-makalah lain telah membahas perkembangan psikologi anak usia kanak-kanak dan masa dewasa.
Jadi masa baligh adalah masa dimana usia anak telah sampai dewasa. Usia ini anak telah mengalami kesadaran penuh akan dirinya, sehingga ia diberi tanggung jawab (taklif), terutama tanggung jawab agama dan sosial.[8] Menurut al-Taftazani, fase ini dianggap sebagai fase yang mana individu mampu bertindak menjalankan hukum, baik yang bekaitan dengan perintah maupun larangan. Seluruh perilaku mukallaf harus dipertanggungjawabkan, karena hal itu akan berimbas pada pahala dan dosa.[9]
Masa balig berlangsung dari saat individu menjadi matang secara seksual sampai usia delapan belas tahun, usia kematangan awal masa remaja berlangsung sampai tujuh belas tahun, dan akhir masa remaja berlangsung sampai usia kematangan yang resmi.[10]
Fase ini merupakan fase yang terpenting dalam rentang kehidupan manusia, karena fase ini merupakan awal aktualisasi diri dalam memenuhi perjalanan yang pernah diucapkan di alam prakehidupan dunia. Menurut Ikhwan al-Shafa, fase ini disebut dengan fase „alam al-ardh al tsani (alam pertunjukan kedua), dimana manusia dituntut untuk mengaktualisasikan perjanjian yang pernah disepakati pada „alam al-ardh al al-awal (alam pertunjukan awal), yakni di alam arwah.[11] Sedangkan Al-Ghazali menyebutnya dengan fase „aqil, fase dimana tingkat perkembangan intelektual seseorang dalam kondisi puncaknya, sehingga ia mampu membedakan perilaku yang benar dan salah, baik atau buruk.[12] Kondisi „aqil menjadi salah satu syarat wajib bagi seseorang untuk menerima suatu beban agama, sementara kondisi gila (junun) menjadi penghalang bagi penerimaan kewajiban agama.
Secara psikologis, fase ini ditandai dengan kemampuan seseorang dalam memahami suatu beban taklif, baik menyangkut dasar-dasar kewajiban, jenis-jenis kewajiban, dan prosedur atau cara pelaksanaannya. Kemampuan „memahami‟ menunjukkan adanya kematangan akal pikiran yang mana hal ini menandakan kesadaran seseorang dalam berperilaku, sehingga ia pantas diberi taklif.[13] Fase ini juga ditandai dengan adanya dua hal, yaitu :
1.      Pemahaman, dicapai dengan adanya pendayagunaan akal, karena dengan akal seseorang memiliki kesadaran penuh dalam bertindak. Individu yang tidak memiliki pemahaman yang cukup maka ia tidak terkena beban taklif, seperti anak kecil, orang gila, orang lupa, orang terpaksa, orang tidur dan pingsan dan orang yang tersalah.
2.      Kecakapan, (al-ahliyyah), yaitu dipandang cakap melaksanakanhukum, sehingga perbuatan apa saja yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki implikasi hukum. Kecakapan terbagi atas dua macam, yaitu :
a.       Kecakapan melaksanakan (ahliyyah ada‟), yaitu kecakapan bertindak hukum yang telah dianggap sempurna untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya, baik positif maupun negatif. Kecakapan ini disyaratkan, aqil (berakal), baligh (sampai umur), dan cerdas dalam memahami titah Tuhan.
b.      Kecakapan kewajiban (ahliyyah wujub), yaitu kecakapan untuk menerima kewajiban-kewajiban hukum dan hak-haknya.
Kewajiban penerimaan taklif bagi fase ini menjadi hilang apabila terjadi dua halangan, yaitu (1) Halangan langit (al-waridh al-samawiyyah), yang mana halangan itu langsung dari Allah Swt. Seperti gila, dungu, perbudakan, sakit yang menyebabkan kematian. (2) Halangan yang diusahakan (al-waridh al-muktasabah), yaitu halangan akibat perbuatan manusia sendiri seperti mabuk, terpaksa bersalah, dan bodoh. Hilangnya kewajiban karena individu tidak memiliki kesadaran penuh dalam bertindak.
Masa baligh atau remaja berlangsung dari saat individu menjadi matang secara seksual sampai usia delapan belas tahun, usia kematangan awal masa remaja berlangsung sampai tuh belas tahun, dan akhir masa remaja berlangsung smapai usia kematangan yang resmi.[14]
Perubahan sosial yang terpenting pada masa ini meliputi meningkatnya pengaruh kelompok sebyam pola perilaku sisioal yang lebih matang, pengelompokan sosial baru dan ni8lai-nilai baru dalam pemilihan teman dan pemimpin, dan dalam dukungan sosial.
Perubahan pokok dalam moralitas selama masa remaja terdiri dari menganti koinsep-konsep moral khusus dengan konsep-konsep moral tentang benar dan salah yang bersifat umum, membangun kode moral berdasarkan pada prinsip-prinsip moral individu dan mengendalikan perilaku perkembangan hati nurani.
Pada masa ini banyak sekali peristilahan yang digunakan orang untuk mencirikan usia secara khusus dari sudut pandang mereka yang berbeda-beda. Ada yang meyebutnya usia reproduktif, karena pada usia ini terjadi perkembangan alat-alat reproduksi. Ada yang menyebutnya dengan problem age, karena di usia ini banyak terjadi masalah, yang psikologi Islam disebut usia diberlakukan hukum takhlifi karena pada usia ini anak telah dibebani kewajiban menjalankan hukum-hukum syariat Islam.
Masa balig atau remaja berlangsung dari saat individu menjadi matang secara seksual sampai usia seorang anak sudah mampu menggunakan pikiran dan dapat memahami sesuatu di luar dirinya. Erikson menggunakan istilah Latensy, yaitu fase dimana seorang anak manusia sudah dianggap memiliki kemampuan yang membedakan dirinya dengan mahluk lain. Sementara itu, Piaget menggunakannya dalam pembahasan tentang kognitif berada pada fase operasional konkret (trial and error) dan operasional formal (problem solving). Manusia pada fase ini sudah dapat befikir konkret, berhipotesis dan menganalisis. Artinya pada masa ini manusia memiliki peluang yang amat penting untuk mengasah diri dan mengembangkan petensi diri.
Dengan demikian, fase ini di mana anak telah sampai dewasa. Usia ini anak telah memiliki kesadaran penuh akan dirinya, sehingga ia diberi beban tanggung jawab (taklif), terutama tanggung jawab agama dan sosial. Seperti dalam firman Allah:
Artinya : Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu). (Q.S. An-nisaa:6)

Adapun perkembangan pada masa baligh terdiri dari:

1.             Perkembangan Fisik

Pada masa puberitas dianggap sebagai periode sensitif yang memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan individu. Periode ini menandai perpindahan dari tahap ana-anak menjadi dewasa. Batas usia masa puberitas adal 15 tahun, namun pada saat ini usia puberitas terlihat lebih cepat. Perubahan fisik yang terjadi pada masa puberitas merupakan pengaruh antara faktor genetik dan lingkungan. Berbagai faktor seperti nutrisi, sikap sosial, ukuran keluarga dan olahaaraga dapat mempengaruhi proses puberitas.[15]
Kata puberitas berasaal dari bahasa latin “pubescere” artinya menjadi berbulu. Nabi muhammad Saw. Menggunakan konsep ini untuk membedakn anak-anak dengan orang dewasa, masa ini disebut juga masa baligh. Usia puberitas digambarkan dalam al-Quran sebagai usia yang mencukupi untuk menikah. Usia puberitas sebagai usia dimana individu telah memiliki kematangan pada alat reproduksi seksual yang dimilikinya. Hal ini juga menandai mulainya kematangan aspek lainnya.[16]

Pada masa puberitas terjadi percepatan perkembangan yang mencolok (adolescent growth spurt) yang membuat seseorang dianggap berpindah dari masa kanak-kanak menjadi masa kematangan fisik. Jika perempuan mengalami menstruasi pertama (menarche), maka laki-laki mengalami hal yang disebut spermache. Pada menstruasi, perempuan mengeluarkan darah dari klitorisnya, yang menunjukkan alat reproduksinya telah matang untuk dibuahi. Spermache merupakan ejakulasi yang pertama yang dapat terjadi karena mimpi basah (ihtilam) atau masturbasi. Tidak seperti menerche, permulaan terjadinya spermache masih sulit ditentukan. Namun, spermache yang terjadi sebelum puncak percepatan pertumbuhan tinggi badan (peak growth spurt), ketika karakter seksual sekunder tumbuh pada tahap awal perkembangan. Sebelum masa pubertas yang ditandai dengan munculnya karakter sekunder seksual.
Pertumbuhan biologis pada masa pubertas merupakan komponen universal yang tidak hanya memiliki implikasi biologis, namun juga perkembangan kognitif dan sosial. Perubahan biologis dapat memiliki dampak langsung dan tidak langsung bagi perkembangan remaja. Misalnya percepatan perkembangan yang cepat dapat membawa perubahan bagaimana remaja dipandang dan diperlakukan oleh orang tuanya atau teman sebayanya, seperti juga bagaiman remaja memandan dirinya sendiri. Perumbuhan pubertas dapat membawa remaja pada peran sosial yang baru, seperi pasangan romantik,. Pentingnya perubahan ini juga terlihat dari adanya ritual untuk menyambut kedewasaan pada suku tertentu.
Perempuan bereaksi terhadap perubahan tubuhnya dengan berharap bahwa mereka dapat tampil menarik dan khwatir terhadap perubahan berat badan yang terjadi. Ketakutan yang terjadi dapat menimbulkan anorexia nervosa atau bulimia. Anorexia nervosa adalah rasa ketakutan yang berlebihan yang menghilangkan selera makan. Sementara mereka yang mengalami bulimia dapat mengonsumsi makanan dengan normal, kemudian memuntahkan makanan yang telah mereka makan. Kedua penyakit ini dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya. Mulai dari kekurangan gizi, sampai depresi berat.
2.             Perkembangan kognitif
Kematangan intelektual seseorang dinyatakan berkembang bersamaan dengan kematangan organ seksual. Remaja mengalami benyak perubahan ketika mereka mengalami transisi dari masa klanak menuju masa dewasa. Selain terjadi perubahan fisik dan sosial, terjadi juga berbagai perubahgan dalam cara berfikir dan pengolahan informasi. Anak-anak dan orang dewasa mengalami perbedaan cara berfikir dalam subjek yang berbeda-beda sedangkan orang dewasa berfikir dan memberikan tanggapan yang lebih kompleks dibanding anak-anak.
Pada saat remaja mereka juga mengalami individuasi, dimana mereka mengembangkan identitas diri mereka dan membentuk pendapat sendiri yang mungkin berbeda dengan orang tuanya. Mereka mengalami deidealisasi terhadap orang tua, remaja mulai menyadari bahwa oreang tua mereka tidak selalu benar.
3.             Perkembangan emosi
Pada masa remaja (12-18 tahun) mulai menjadi lebih canggih dalam mengatur emosi mereka. Mereka memiliki banyak perbendaharaan untuk mendiskusikan, dan memengaruhi keadaan emosi diri mereka sendiri dari orang lain. Remaja lebih dapat menerjemahkan situasi sosial sebagai bagian dari proses tampilan emosi. Remaja mengembangkan skema tentang berbagai variasi orang tertentu dalam menunjukkan tampilan emosinya, dan mengatur tampilan emosi mereka berdasarkan skema tersebut. Pada awalnya remaja mulai mencoba melepas ikatan emosional mereka dengan orang tua dan lebih banyak mengembangkan persahabatan dengan teman sebayanya. Remaja, terutama laki-laki, lebih banyak menyembunyikan emosi mereka kepada orang tuanya dibandingkan anak yang lebih muda, karena mereka mengharapkan untuk tidak terlalu banyak mendapatkan dukungan emosional dari orang tuanya. Remaja menjadi sangat memerhatikan dampak ekspresi emosi dalam interaksi sosial mereka dan berusaha untuk mendapatkan persetujuan teman sebayanya. Jenis kelamin memainkan peran penting dalam menunjukkan tampilan emosi, laki-laki lebih laki-laki lebih berusaha menyembunyikan rasa takut dibandingkan perempuan.
Dalam hal ini remaja sudah mulai bisa mengatur emosinya. Islam juga mengajarkan agar manusia bisa mengatur emosinya agar manusia tidak berlebih-lebihan dalam meluapkan emosinya. Firman Allah Swt.  
xøŠs3Ïj9 (#öqyù's? 4n?tã $tB öNä3s?$sù Ÿwur (#qãmtøÿs? !$yJÎ/ öNà69s?#uä 3 ª!$#ur Ÿw =Ïtä ¨@ä. 5A$tFøƒèC Aqãsù ÇËÌÈ  
Artinya : (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. al-Hadid; 23)
4.             Perkembangan sosial
Pada fase remaja atau balig, mereka mulai memasuki tahap pengambilan peran sosial. Remaja mampu memahami perspektif orang lain dan melakukan perbandingan berbagai perspektif dengan sistem sosial yang berlaku. Dengan kata lain remaja mengharapkan orang lain memikirkan perspektif umum yang berlaku dalam kelompok sosial mereka.[17]
5.             Perkembangan bahasa
Ragam bahasa remaja memiliki ciri khusus, singkat, lincah dan kreatif. Kata-kata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek seperti „permainan diganti degan mainan, pekerjaan diganti dengan kerjaan.
Kalimat-kalimat yang digunakan kebanyakan berstruktur kalimat tunggal. Bentuk-bentuk elip juga banyak digunakan untuk membuat susunan kalimat menjadi lebih pendek sehingga seringkali dijumpai kalimat-kalimat yang tidak lengkap. Dengan menggunakan struktur yang pendek, pengungkapan makna menjadi lebih cepat yang sering membuat pendengar yang bukan penutur asli bahasa Indonesia mengalami kesulitan untuk memahaminya. Kita bisa mendengar bagaimana bahasa remaja ini dibuat begitu singkat tetapi sangat komunikatif.
Mengacu kepada tahapan perkembangan bahasa yang telah dipaparkan terdahulu, sesuai dengan tingkatan usia kronologis yang telah dicapai, karakteristik perkembangan bahasa remaja telah mencapai tahap kompetensi lengkap. Pada usia ini, individu diharapkan telah mempelajari semua sarana bahasa dan keterampilan-keterampilan performansi untuk memahami dan menghasilkan bahasa tertentu dengan baik.


6.             Perkembangan moral
Individu yang berada pada tahap ini melakukn penalaran berdasarkan pandangan dan pengharapan kelompok sosial mereka. Aturan dan norma sosial dipatuhi untuk mendapatkan persetujuan orang lain atau memelihara aturan sosial. Penghargaan dan penolakan sosial mengganti hadiah atau hukuman yang konkrit sebagai motivator perilaku etik.
Tahap perkembangan moral remaja juga termasuk pada tingkat moralitas konvensional. Adapun ciri-ciri tahap perkembangan moral remaja adalah orientasi anak baik-baik dan orientasi pemeliharaan otoritas. Contoh perilakunya adalah anak mematuhi aturan untuk menghindari ketidaksetujuan sosial atau penolakan. Contoh lainnya anak ingin menghindari kritikan orang lain atau pihak otoritas.













KESIMPULAN
Perubahan dalam diri manusia terdiri atas perubahan kualitatif akibat dari perubahan psikis, dan perubahan kuantitatif akibat dari perubahan fisik. Perubahan kualitatif tersebut sering disebut dengan “perkembangan”, seperti perubahan dari tidak mengetahui menjadi mengetahuinya, dari kekanak-kanakan menjadi dewasa, dst. Sedangkan perubahan kuantitatif sering disebut dengan “pertumbuhan”, seperti perubahan tinggi dan berat badan.
Perkembangan dapat diartikan sebagai “perubahan yang progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati. Pengertian lain dari perkembangan adalah “perubahan-perubahan yang yang ialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah)”.
Secara garis besar tahapan perkembangan manusia dapat diamati pada tahap kanak-kanak, baliq dan dewasa. Ciri perkembangan dapat dilihat dari berbagai aspek diantaranya perkembangan fisik, kognitif, emosi, sosial, bahasa, moral dan spiritual.
Pengembangan kepribadian manusia memperhatikan struktur kepribadian manusia terdiri atas tiga yaitu qalbu (sruktur terdalam pada manusia dikendalikan oleh roh, rekan kerjanya adalah wahyu dan ilham), Jism (struktur terluar pada manusia yang dikendalikan oleh fisik/badan, rekan kerjanya adalah hawa nafsu dan nafsu syahwat), dan nafs (unsur yang menjadi perpaduan qalbu dan jism dikendalikan oleh rasio qakbani dan rasio nafsani, rekan kerjanya adalah qalbu, pancaindra dan seluruh anggota tubuh). Perkembangan ketiga struktur tersebut sangat menentukan perilaku manusia.






















DAFTAR PUSTAKA
Gunarsa, Singgih D, Psikologi Praktis : Anak, Remaja dan Keluarga, Cet – 7, Jakarta: Gunung Mulia, 2004.

Zainuddin, Seluk Beluk Pendidikan menurut al-Ghazali, Jakarta: Bumi Aksara, 1996.

Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan anak dan Remaja, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.

Netty Hartati, dkk., Islam dan Psikologi, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004.

Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006.

Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997.

Hasan, Purwakani, B. Aliah, Psikologi Perkembangan Islami. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.

























[1] Gunarsa, Singgih D, Psikologi Praktis : Anak, Remaja dan Keluarga, Cet – 7, (Jakarta: Gunung Mulia, 2004), hlm. 2.
[2] Lihat J.P. Chalplin, Kamus Lengkap Psikologi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 39.

[3] Netty Hartati, dkk., Islam dan Psikologi, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004), hlm. 2.

[4] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997), hlm. 46.

[5] Netty Hartati, dkk., Islam dan Psikologi, hlm. 13.
[6] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan anak dan Remaja, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2002), hlm. 15

[7]  Netty Hartati, dkk., Islam dan Psikologi,…. hlm. 13.
[8] Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006). hlm. 403.

[9] Dikutip Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006), h. 403.

[10] Netty Hartati, dkk., Islam dan Psikologi……., h. 41.
[11] Abdul Mujib. Kepribadian……, hlm. 403.

[12] Zainuddin, Seluk Beluk Pendidikan menurut al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 69.

[13] Abdul Mujib, Kepribadian ………., hlm. 404.
[14]  Netty Hartati, dkk., Islam dan Psikologi…., hlm. 41.
[15] Aliah B. Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islam; Menyingkap Rentang Kehidupan Manusia dari Prakelahiran hingga pascakematian, (Jakarta: RajaGRafindo Persada, 2008), hlm. 109.

[16] Ibid, hlm. 110.
[17] Ibid, hlm. 200.

1 komentar: