PENDAHULUAN
Oleh : Darussalam
Pada
dasarnya anak dilahirkan di dunia dalam keadaan fitrah. Selaras dengan teori
“tabula rasa” milik John Lock bahwa anak dilahirkan seperti kertas putih tanpa
coretan. Dalam diri anak memiliki potensi-potensi yang harus dikembangkan,
sehingga anak tersebut dapat mencapai tujuaanya dalam menghadapi kehidupannya.
Psikologi
berasal dari psyche yakni jiwa dan logos ilmu pengetahuan. Mengingat
jiwa seseorang dapat dipelajari, diselidiki melalui perilakunya, maka psikologi
sering dikatakan ilmu yang mempelajari perilaku manusia. Karena perilaku
seseorang adalah hasil anteraksi antara dirinya dan lingkungan, maka perilaku
harus dipelajari dalam hubungan dengan lingkungannya.
Maka
psikologi dapat dirumuskan sebagai ilmu pengetahuan tentanga mempelajari
perilaku manusia dalam hubungan timbal balik dengan lingkungannya. Dalam usaha
memahami perilaku manusia, dipakai beberapa cara antara lain observasi. Observasi adalah melihat perilaku orang lain
dan memberi arti pada perilaku serta mencari penyebab atau latar belakang
timbulnya perilaku tersebut.[1]
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN
PSIKOLOGI PEMBELAJARAN
ANAK USIA
REMAJA
Psikologi
adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk kejiwaan manusia. Peyelidikan tentang
gejala-gejala kejiwaan itu sendiri awal mulanya dilakukan oleh para filsuf
Yunani kuno.[2]
Psikologi baru diakui menjadi cabang ilmu independen setelah didirikan
laboratorium psikologi oleh Wilhem Wund pada tahun 1879. Yang kemudian sangat
berpengaruh bagi perkembangan psikologi selanjutnya. Metode-metode baru
dikemukakan untuk pembuktian nyata dalam psikologi sehingga lambat laun dapat
disusun teori-teori psikologi yang terlepas dari ilmu induknya.[3]
Menurut
Nana Syaodih Sukmadinata, minimal ada dua bidang psikologi yang mendasari
pengembangan kurikulum, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar.
Keduanya sangat diperlukan, baik dalam merumuskan tujuan, memilih dan menyusun
bahan ajar, memilih dan menetapkan metode pembelajaran serta tekni-teknik
penilaian.[4]
Psikologi
perkembangan merupakan cabang psikologi yang mempelajari tingkah laku dan
kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dimulai dari konsepsi sampai
mati.[5]
Perkembangan
dapat diartikan sebagai suatu perubahan progresif dan kontinu dalam diri
individu dari mulai lahir sampai mati. Perkembangan juga diartikan sebagai
perubahan-peribahan yang dialami oleh individu atau organisme menuju tingkat
kedewasaannya atau kematangannya yang berlangsung secara sistemastis (saling
ketergantungan atau saling mempengaruhi antara bagian-bagian organisme dan
merupakan suatu kesatuan yang utuh), progresif (bersifat maju, meningkat dan
mendalam baik secara kuantitatif maupun kualitatif) dan berkesinambungan
(secara beraturan, berurutan, bukan secara kebetulan) menyangkut fisik maupun
psikis.[6]
Pembahasan
tentang tahapan-tahapan perkembangan psikologi manusia termuat dalam Al-Qur’an.
Allah menciptakan manusia dari berbagai tahap progresif pertumbuhan dan
perkembangan. Dengan kata lain, kehidupan manusia memiliki pola dalam
tahapan-tahapan tertentu termasuk tahapan dari pembuahan sampai kematian.
Tahapan yang terjadi yang dilewati manusia dalam pertumbuhan dan
perkembangannya terjadi bukan karena faktor peluang atau kebetulan, namun ini
merupakan sesuatu yang dirancang, ditentukan dan ditetapkan langsung oleh Allah
swt, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Furqaan ayat 2 di bawah ini:
Ï%©!$# ¼çms9 à7ù=ãB ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur óOs9ur õÏGt #Ys9ur öNs9ur `ä3t ¼ã&©! Ô7ΰ Îû Å7ù=ßJø9$# t,n=yzur ¨@à2 &äóÓx« ¼çnu£s)sù #\Ïø)s? ÇËÈ
Artinya :“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan
dia tidak mempunyai anak, dan tidak
ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala
sesuatu, dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya".
(QS. Al-Furqaan Ayat 2).
Dengan
demikian, maka bisa diartikan bahwa manusia pasti mengalami fase-fase
perkembangan. Adapun Ciri-ciri umum perkembangan adalah:
1.
Terjadinya
perubahan dalam aspek fisik (misalnya tinggi dan berat badan) dan aspek psikis
(misalnya bertambahnya perbendaharaan kata dan matangnya kemapuan berpikir).
2.
Terjadinya
perubahan proporsi menyangkut aspek fisik (proporsi tubuh anak berubah sesuai
dengan fase perkembangan) dan aspek psikis (misalnya perubahan imajinasi dari
fantasi menuju realitas).
3.
Menghilangnya
tanda-tanda fisik dan psikis yang lama (misalnya hilangnya rambut-rambut halus
dan gigi susu, hilangnya masa mengoceh, merangkak dan berinda impulsif).
4.
Munculnya
tanda-tanda fisik dan psikis yang baru (misalnya pergantian gigi dan
berkembangnya curiosity).[7]
Penjelasan
di atas menunjukkan perkembangan manusia mulai fase anak sampai dewasa memiliki
ciri-ciri tertentu, baik aspek fisik, kognitif sampai agama, berikut ini akan
dibahas secara mendalam terkait dengan perkembangan manusia sebagai dasar
pendidikan Islam.
Proses
pemkembangan psikologi anak dapat di bagi beberapa fase, yang meliputi:
1.
Fase
masa kanak-kanak
2.
Fase
masa baligh
3.
Fase
masa dewasa
Dari
ketiga masa tersebut, dalam pemakalah ini akan membahas tentang masa baligh
(masa remaja) saja. Karena pada makalah-makalah lain telah membahas
perkembangan psikologi anak usia kanak-kanak dan masa dewasa.
Jadi
masa baligh adalah masa dimana usia anak telah sampai dewasa. Usia ini
anak telah mengalami kesadaran penuh akan dirinya, sehingga ia diberi tanggung
jawab (taklif), terutama tanggung jawab agama dan sosial.[8] Menurut al-Taftazani, fase ini dianggap sebagai fase yang mana
individu mampu bertindak menjalankan hukum, baik yang bekaitan dengan perintah
maupun larangan. Seluruh perilaku mukallaf harus dipertanggungjawabkan, karena
hal itu akan berimbas pada pahala dan dosa.[9]
Masa
balig berlangsung dari saat individu menjadi matang secara seksual sampai usia
delapan belas tahun, usia kematangan awal masa remaja berlangsung sampai tujuh
belas tahun, dan akhir masa remaja berlangsung sampai usia kematangan yang
resmi.[10]
Fase
ini merupakan fase yang terpenting dalam rentang kehidupan manusia, karena fase
ini merupakan awal aktualisasi diri dalam memenuhi perjalanan yang pernah
diucapkan di alam prakehidupan dunia. Menurut Ikhwan al-Shafa, fase ini disebut
dengan fase „alam al-ardh al tsani (alam pertunjukan kedua), dimana
manusia dituntut untuk mengaktualisasikan perjanjian yang pernah disepakati
pada „alam al-ardh al al-awal (alam pertunjukan awal), yakni di alam
arwah.[11] Sedangkan
Al-Ghazali menyebutnya dengan fase „aqil, fase dimana tingkat
perkembangan intelektual seseorang dalam kondisi puncaknya, sehingga ia mampu
membedakan perilaku yang benar dan salah, baik atau buruk.[12] Kondisi
„aqil menjadi salah satu syarat wajib bagi seseorang untuk menerima
suatu beban agama, sementara kondisi gila (junun) menjadi penghalang
bagi penerimaan kewajiban agama.
Secara
psikologis, fase ini ditandai dengan kemampuan seseorang dalam memahami suatu
beban taklif, baik menyangkut dasar-dasar kewajiban, jenis-jenis kewajiban, dan
prosedur atau cara pelaksanaannya. Kemampuan „memahami‟ menunjukkan adanya
kematangan akal pikiran yang mana hal ini menandakan kesadaran seseorang dalam
berperilaku, sehingga ia pantas diberi taklif.[13] Fase
ini juga ditandai dengan adanya dua hal, yaitu :
1. Pemahaman, dicapai dengan adanya pendayagunaan akal, karena
dengan akal seseorang memiliki kesadaran penuh dalam bertindak. Individu yang
tidak memiliki pemahaman yang cukup maka ia tidak terkena beban taklif, seperti
anak kecil, orang gila, orang lupa, orang terpaksa, orang tidur dan pingsan dan
orang yang tersalah.
2. Kecakapan, (al-ahliyyah), yaitu dipandang cakap
melaksanakanhukum, sehingga perbuatan apa saja yang dilakukan dapat
dipertanggungjawabkan dan memiliki implikasi hukum. Kecakapan terbagi atas dua
macam, yaitu :
a. Kecakapan melaksanakan (ahliyyah ada‟), yaitu kecakapan
bertindak hukum yang telah dianggap sempurna untuk mempertanggungjawabkan
seluruh perbuatannya, baik positif maupun negatif. Kecakapan ini disyaratkan, aqil
(berakal), baligh (sampai umur), dan cerdas dalam memahami titah Tuhan.
b. Kecakapan kewajiban (ahliyyah wujub), yaitu kecakapan
untuk menerima kewajiban-kewajiban hukum dan hak-haknya.
Kewajiban penerimaan taklif
bagi fase ini menjadi hilang apabila terjadi dua halangan, yaitu (1) Halangan
langit (al-waridh al-samawiyyah), yang mana halangan itu langsung dari
Allah Swt. Seperti gila, dungu, perbudakan, sakit yang menyebabkan kematian.
(2) Halangan yang diusahakan (al-waridh al-muktasabah), yaitu halangan
akibat perbuatan manusia sendiri seperti mabuk, terpaksa bersalah, dan bodoh.
Hilangnya kewajiban karena individu tidak memiliki kesadaran penuh dalam
bertindak.
Masa baligh atau remaja
berlangsung dari saat individu menjadi matang secara seksual sampai usia
delapan belas tahun, usia kematangan awal masa remaja berlangsung sampai tuh
belas tahun, dan akhir masa remaja berlangsung smapai usia kematangan yang
resmi.[14]
Perubahan
sosial yang terpenting pada masa ini meliputi meningkatnya pengaruh kelompok
sebyam pola perilaku sisioal yang lebih matang, pengelompokan sosial baru dan
ni8lai-nilai baru dalam pemilihan teman dan pemimpin, dan dalam dukungan
sosial.
Perubahan
pokok dalam moralitas selama masa remaja terdiri dari menganti koinsep-konsep
moral khusus dengan konsep-konsep moral tentang benar dan salah yang bersifat
umum, membangun kode moral berdasarkan pada prinsip-prinsip moral individu dan
mengendalikan perilaku perkembangan hati nurani.
Pada masa ini banyak sekali
peristilahan yang digunakan orang untuk mencirikan usia secara khusus dari
sudut pandang mereka yang berbeda-beda. Ada yang meyebutnya usia reproduktif,
karena pada usia ini terjadi perkembangan alat-alat reproduksi. Ada yang
menyebutnya dengan problem age, karena di usia ini banyak terjadi masalah, yang
psikologi Islam disebut usia diberlakukan hukum takhlifi karena pada
usia ini anak telah dibebani kewajiban menjalankan hukum-hukum syariat Islam.
Masa balig atau remaja berlangsung
dari saat individu menjadi matang secara seksual sampai usia seorang anak sudah
mampu menggunakan pikiran dan dapat memahami sesuatu di luar dirinya. Erikson
menggunakan istilah Latensy, yaitu fase dimana seorang anak manusia
sudah dianggap memiliki kemampuan yang membedakan dirinya dengan mahluk lain.
Sementara itu, Piaget menggunakannya dalam pembahasan tentang kognitif berada
pada fase operasional konkret (trial and error) dan operasional formal (problem
solving). Manusia pada fase ini sudah dapat befikir konkret, berhipotesis
dan menganalisis. Artinya pada masa ini manusia memiliki peluang yang amat
penting untuk mengasah diri dan mengembangkan petensi diri.
Dengan demikian, fase ini di mana
anak telah sampai dewasa. Usia ini anak telah memiliki kesadaran penuh akan
dirinya, sehingga ia diberi beban tanggung jawab (taklif), terutama
tanggung jawab agama dan sosial. Seperti dalam firman Allah:
Artinya : Dan ujilah anak yatim itu sampai
mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah
cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka
harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan
dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa.
Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri
(dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah
ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta
kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu)
bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu). (Q.S.
An-nisaa:6)
Adapun perkembangan pada masa baligh
terdiri dari:
1.
Perkembangan Fisik
Pada
masa puberitas dianggap sebagai periode sensitif yang memiliki pengaruh yang
sangat besar bagi kehidupan individu. Periode ini menandai perpindahan dari
tahap ana-anak menjadi dewasa. Batas usia masa puberitas adal 15 tahun, namun
pada saat ini usia puberitas terlihat lebih cepat. Perubahan fisik yang terjadi
pada masa puberitas merupakan pengaruh antara faktor genetik dan lingkungan.
Berbagai faktor seperti nutrisi, sikap sosial, ukuran keluarga dan olahaaraga
dapat mempengaruhi proses puberitas.[15]
Kata
puberitas berasaal dari bahasa latin “pubescere” artinya menjadi
berbulu. Nabi muhammad Saw. Menggunakan konsep ini untuk membedakn anak-anak
dengan orang dewasa, masa ini disebut juga masa baligh. Usia puberitas
digambarkan dalam al-Quran sebagai usia yang mencukupi untuk menikah. Usia
puberitas sebagai usia dimana individu telah memiliki kematangan pada alat
reproduksi seksual yang dimilikinya. Hal ini juga menandai mulainya kematangan
aspek lainnya.[16]
Pada
masa puberitas terjadi percepatan perkembangan yang mencolok (adolescent
growth spurt) yang membuat seseorang dianggap berpindah dari masa
kanak-kanak menjadi masa kematangan fisik. Jika perempuan mengalami menstruasi
pertama (menarche), maka laki-laki mengalami hal yang disebut spermache.
Pada menstruasi, perempuan mengeluarkan darah dari klitorisnya, yang
menunjukkan alat reproduksinya telah matang untuk dibuahi. Spermache merupakan
ejakulasi yang pertama yang dapat terjadi karena mimpi basah (ihtilam) atau
masturbasi. Tidak seperti menerche, permulaan terjadinya spermache masih sulit
ditentukan. Namun, spermache yang terjadi sebelum puncak percepatan pertumbuhan
tinggi badan (peak growth spurt), ketika karakter seksual sekunder
tumbuh pada tahap awal perkembangan. Sebelum masa pubertas yang ditandai dengan
munculnya karakter sekunder seksual.
Pertumbuhan
biologis pada masa pubertas merupakan komponen universal yang tidak hanya
memiliki implikasi biologis, namun juga perkembangan kognitif dan sosial. Perubahan
biologis dapat memiliki dampak langsung dan tidak langsung bagi perkembangan
remaja. Misalnya percepatan perkembangan yang cepat dapat membawa perubahan
bagaimana remaja dipandang dan diperlakukan oleh orang tuanya atau teman
sebayanya, seperti juga bagaiman remaja memandan dirinya sendiri. Perumbuhan
pubertas dapat membawa remaja pada peran sosial yang baru, seperi pasangan
romantik,. Pentingnya perubahan ini juga terlihat dari adanya ritual untuk
menyambut kedewasaan pada suku tertentu.
Perempuan
bereaksi terhadap perubahan tubuhnya dengan berharap bahwa mereka dapat tampil
menarik dan khwatir terhadap perubahan berat badan yang terjadi. Ketakutan yang
terjadi dapat menimbulkan anorexia nervosa atau bulimia. Anorexia
nervosa adalah rasa ketakutan yang berlebihan yang menghilangkan selera
makan. Sementara mereka yang mengalami bulimia dapat mengonsumsi makanan dengan
normal, kemudian memuntahkan makanan yang telah mereka makan. Kedua penyakit
ini dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya. Mulai dari kekurangan gizi,
sampai depresi berat.
2.
Perkembangan kognitif
Kematangan
intelektual seseorang dinyatakan berkembang bersamaan dengan kematangan organ
seksual. Remaja mengalami benyak perubahan ketika mereka mengalami transisi
dari masa klanak menuju masa dewasa. Selain terjadi perubahan fisik dan sosial,
terjadi juga berbagai perubahgan dalam cara berfikir dan pengolahan informasi.
Anak-anak dan orang dewasa mengalami perbedaan cara berfikir dalam subjek yang
berbeda-beda sedangkan orang dewasa berfikir dan memberikan tanggapan yang
lebih kompleks dibanding anak-anak.
Pada
saat remaja mereka juga mengalami individuasi, dimana mereka mengembangkan
identitas diri mereka dan membentuk pendapat sendiri yang mungkin berbeda
dengan orang tuanya. Mereka mengalami deidealisasi terhadap orang tua, remaja
mulai menyadari bahwa oreang tua mereka tidak selalu benar.
3.
Perkembangan emosi
Pada
masa remaja (12-18 tahun) mulai menjadi lebih canggih dalam mengatur emosi
mereka. Mereka memiliki banyak perbendaharaan untuk mendiskusikan, dan
memengaruhi keadaan emosi diri mereka sendiri dari orang lain. Remaja lebih
dapat menerjemahkan situasi sosial sebagai bagian dari proses tampilan emosi.
Remaja mengembangkan skema tentang berbagai variasi orang tertentu dalam menunjukkan
tampilan emosinya, dan mengatur tampilan emosi mereka berdasarkan skema
tersebut. Pada awalnya remaja mulai mencoba melepas ikatan emosional mereka
dengan orang tua dan lebih banyak mengembangkan persahabatan dengan teman
sebayanya. Remaja, terutama laki-laki, lebih banyak menyembunyikan emosi mereka
kepada orang tuanya dibandingkan anak yang lebih muda, karena mereka
mengharapkan untuk tidak terlalu banyak mendapatkan dukungan emosional dari
orang tuanya. Remaja menjadi sangat memerhatikan dampak ekspresi emosi dalam
interaksi sosial mereka dan berusaha untuk mendapatkan persetujuan teman
sebayanya. Jenis kelamin memainkan peran penting dalam menunjukkan tampilan
emosi, laki-laki lebih laki-laki lebih berusaha menyembunyikan rasa takut
dibandingkan perempuan.
Dalam
hal ini remaja sudah mulai bisa mengatur emosinya. Islam juga mengajarkan agar
manusia bisa mengatur emosinya agar manusia tidak berlebih-lebihan dalam
meluapkan emosinya. Firman Allah Swt.
xøs3Ïj9 (#öqyù's? 4n?tã $tB öNä3s?$sù wur (#qãmtøÿs? !$yJÎ/ öNà69s?#uä 3
ª!$#ur w =Ïtä ¨@ä. 5A$tFøèC Aqãsù ÇËÌÈ
Artinya : (Kami jelaskan yang demikian itu)
supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya
kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah
tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. al-Hadid; 23)
4.
Perkembangan sosial
Pada
fase remaja atau balig, mereka mulai memasuki tahap pengambilan peran sosial.
Remaja mampu memahami perspektif orang lain dan melakukan perbandingan berbagai
perspektif dengan sistem sosial yang berlaku. Dengan kata lain remaja
mengharapkan orang lain memikirkan perspektif umum yang berlaku dalam kelompok
sosial mereka.[17]
5.
Perkembangan bahasa
Ragam
bahasa remaja memiliki ciri khusus, singkat, lincah dan kreatif. Kata-kata yang
digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang akan diperpendek
melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek
seperti „permainan diganti degan mainan, pekerjaan diganti dengan kerjaan.
Kalimat-kalimat
yang digunakan kebanyakan berstruktur kalimat tunggal. Bentuk-bentuk elip juga
banyak digunakan untuk membuat susunan kalimat menjadi lebih pendek sehingga
seringkali dijumpai kalimat-kalimat yang tidak lengkap. Dengan menggunakan
struktur yang pendek, pengungkapan makna menjadi lebih cepat yang sering
membuat pendengar yang bukan penutur asli bahasa Indonesia mengalami kesulitan
untuk memahaminya. Kita bisa mendengar bagaimana bahasa remaja ini dibuat
begitu singkat tetapi sangat komunikatif.
Mengacu
kepada tahapan perkembangan bahasa yang telah dipaparkan terdahulu, sesuai
dengan tingkatan usia kronologis yang telah dicapai, karakteristik perkembangan
bahasa remaja telah mencapai tahap kompetensi lengkap. Pada usia ini, individu
diharapkan telah mempelajari semua sarana bahasa dan keterampilan-keterampilan
performansi untuk memahami dan menghasilkan bahasa tertentu dengan baik.
6.
Perkembangan moral
Individu
yang berada pada tahap ini melakukn penalaran berdasarkan pandangan dan
pengharapan kelompok sosial mereka. Aturan dan norma sosial dipatuhi untuk
mendapatkan persetujuan orang lain atau memelihara aturan sosial. Penghargaan
dan penolakan sosial mengganti hadiah atau hukuman yang konkrit sebagai
motivator perilaku etik.
Tahap
perkembangan moral remaja juga termasuk pada tingkat moralitas konvensional.
Adapun ciri-ciri tahap perkembangan moral remaja adalah orientasi anak
baik-baik dan orientasi pemeliharaan otoritas. Contoh perilakunya adalah anak
mematuhi aturan untuk menghindari ketidaksetujuan sosial atau penolakan. Contoh
lainnya anak ingin menghindari kritikan orang lain atau pihak otoritas.
KESIMPULAN
Perubahan
dalam diri manusia terdiri atas perubahan kualitatif akibat dari perubahan
psikis, dan perubahan kuantitatif akibat dari perubahan fisik. Perubahan
kualitatif tersebut sering disebut dengan “perkembangan”, seperti perubahan
dari tidak mengetahui menjadi mengetahuinya, dari kekanak-kanakan menjadi
dewasa, dst. Sedangkan perubahan kuantitatif sering disebut dengan
“pertumbuhan”, seperti perubahan tinggi dan berat badan.
Perkembangan
dapat diartikan sebagai “perubahan yang progresif dan kontinyu
(berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati. Pengertian
lain dari perkembangan adalah “perubahan-perubahan yang yang ialami individu
atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya yang berlangsung
secara sistematis, progresif dan berkesinambungan baik menyangkut fisik
(jasmaniah) maupun psikis (rohaniah)”.
Secara
garis besar tahapan perkembangan manusia dapat diamati pada tahap kanak-kanak,
baliq dan dewasa. Ciri perkembangan dapat dilihat dari berbagai aspek
diantaranya perkembangan fisik, kognitif, emosi, sosial, bahasa, moral dan
spiritual.
Pengembangan
kepribadian manusia memperhatikan struktur kepribadian manusia terdiri atas
tiga yaitu qalbu (sruktur terdalam pada manusia dikendalikan oleh roh, rekan
kerjanya adalah wahyu dan ilham), Jism (struktur terluar pada manusia yang
dikendalikan oleh fisik/badan, rekan kerjanya adalah hawa nafsu dan nafsu
syahwat), dan nafs (unsur yang menjadi perpaduan qalbu dan jism dikendalikan
oleh rasio qakbani dan rasio nafsani, rekan kerjanya adalah qalbu, pancaindra
dan seluruh anggota tubuh). Perkembangan ketiga struktur tersebut sangat
menentukan perilaku manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Gunarsa,
Singgih D, Psikologi Praktis : Anak, Remaja dan Keluarga, Cet – 7,
Jakarta: Gunung Mulia, 2004.
Zainuddin,
Seluk Beluk Pendidikan menurut al-Ghazali, Jakarta: Bumi Aksara, 1996.
Syamsu
Yusuf, Psikologi Perkembangan anak dan Remaja, Bandung: Remaja Rosdakarya,
2002.
Netty
Hartati, dkk., Islam dan Psikologi, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004.
Abdul
Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, (Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2006.
Nana
Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1997.
Hasan,
Purwakani, B. Aliah, Psikologi Perkembangan Islami. Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2006.
[1] Gunarsa,
Singgih D, Psikologi Praktis : Anak, Remaja dan Keluarga, Cet – 7,
(Jakarta: Gunung Mulia, 2004), hlm. 2.
[2]
Lihat J.P. Chalplin, Kamus Lengkap Psikologi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
1999), hlm. 39.
[3]
Netty Hartati, dkk., Islam dan Psikologi, (Jakarta: RajaGrafindo Persada,
2004), hlm. 2.
[4]
Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1997), hlm. 46.
[5]
Netty Hartati, dkk., Islam dan Psikologi, hlm. 13.
[6] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan anak dan Remaja, (Bandung:
Remaja
Rosdakarya, 2002), hlm. 15
[7] Netty Hartati, dkk., Islam dan Psikologi,….
hlm. 13.
[8]
Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, (Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2006). hlm. 403.
[9]
Dikutip
Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, (Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2006), h. 403.
[10]
Netty
Hartati, dkk., Islam dan Psikologi……., h. 41.
[11]
Abdul Mujib. Kepribadian……, hlm. 403.
[12] Zainuddin,
Seluk Beluk Pendidikan menurut al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996),
hlm. 69.
[13]
Abdul Mujib, Kepribadian ………., hlm. 404.
[14] Netty Hartati, dkk., Islam dan Psikologi….,
hlm. 41.
[15]
Aliah B. Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islam; Menyingkap Rentang
Kehidupan Manusia dari Prakelahiran hingga pascakematian, (Jakarta:
RajaGRafindo Persada, 2008), hlm. 109.
[16] Ibid,
hlm. 110.
[17] Ibid,
hlm. 200.
ijin mengkopi
BalasHapus